Senin, 25 Juni 2012

Seindah Bulan Purnama


Tangan lembut bagai sutra, tak lelah memberi dan memberi bagi yang lemah, wajahnya yang tak hitam,
 juga tak putih dan bercahaya bagai bulan purnama adalah buah dari kearifan dan kemulyaan
Sungguh, jika mereka tau siapa dia, pasti tak akan pernah bisa berhenti mengaguminya, yah.. Rosul Allah yang paling mulia yang selalu menggoreskan tinta-tinta peradaban, membekas dalam hati tinggalkan jejak sampai mati, tak ada satu manusiapun yang serupa dengannya, jika aku yang mencintai, beliau banyak yang mencintai, jika aku yang mengidamkan, kesempurnaanya yang menjadi idaman.
Tragis. Ketika ku lihat anak-anak muda berbondong-bondong, merelakan orang lain, mengorbankan diri mereka untuk pergi, untuk bisa bertemu dengan orang yang mereka sukai, untuk orang yang mereka gilai, lantas yang terpikir oleh ku, apa yang orang-orang itu bisa hingga mereka mendapat cinta dari segerombol para pemuda ini? Suara yang indah?  Kebanyakan dari para pemuda memang mengagumi suara-suara itu, tapi suara yang mungin indah itu, mengeluarkan kata-kata yang tak berarti, kata-kata penghinaan, kata-kata yang bisa mempengaruhi orang lain untuk berbuat jahat, mempengaruhi orang lain untuk berbuat tidak baik. Jika harus dibandingkan dengan Rosul, aku tak terbayang harus berjalan berapa meterkah untuk mengukur perbandingan yang sangat jauh itu



Aku dilahirkan menjadi seorang perempuan, yang biasanya seorang perempuan itu memiliki suara yang halus dan lembut, benar sekali. Banyak orang yang bilang kalau suara perempuan itu lebih indah dari suara laki-laki yang besar, serak, kadang kasar. Aku pun seperti itu adanya, suara kecil nan lembut, ditambah pribadi ku yang pendiam, yang kadang enggan untuk berbicara dan bergaul. Sangat mendukung sekali bila banyak orang yang memintaku untuk membesarkan volume suara.
Suatu saat aku perhatikan ruangan sekitar rumah, setelah ku merebah dari kelelahan. Ku arahkan pandangan kepada tumpukan buku yang besar-besar itu. Dalam kesederhanaan pun Papah, menabung untuk membeli buku-buku mahal itu. Tertuju mataku pada suat buku yang cukup menarik namun tak asing ku lihat rangkaian kata judul buku itu. Beberapa lembar buku itu aku baca, ada daya tarik sendiri untuk aku membacanya terus menerus hingga selesai. Namun dipertengahan jalan aku mulai merenung. Aku terdiam sejenak, sambil menghela nafas panjang dan kerutan dikening, ku coba beranjak dan mengamati anak-anak yang bermain dipinggiran rumah itu, “apakah mereka mengenang Rosul?” Tanya ku dalam hati. Aku yakin mereka tahu kelebihan-kelebihan dan Rasul miliki, dan beribu alasan Rasul untuk dikagumi, aku yakin anak-anak lugu ini pasti telah mengetahuinya, apa lagi kita? Yang sudah jelas memiliki samudra ilmu yang sangat luas, tapi akan kah anak-anak ini, dan kita bisa mengangumi bahkan mencintai Rosul seperti para Sahabat? Bahkan betapa besar cinta mereka kepada Rasul, mereka berani mati demi beliau.
Jangankan anak-anak muda yang bergerombol itu, juga anak-anak kecil lugu yang sedang bermain itu, aku sendiri jika sedang mengagumi, pasti aku pernah melihatkan pada suatu waktu tertentu seorang itu, dan aku melihat dan mendengar sebuah alasan-alasan dan sebab-sebab yang mengakibatkan aku ingin mengaguminya. Sementara Rosul? Aku hanya bisa mendengar dongeng kuno tentang ketampanan yang tiada banding, tentang kekuatan dan keberanian di medan perang, tentang kelembutan dan keramahan didalam dan diluar rumah, aku sama sekali tidak bisa melihat. Modal aku bisa mengaguminya hanya membaca membaca dan membaca.
Dan itu aku, bagaimana dengan orang lain? Akankah mereka bisa mengagumi Rosul dengan cara ku? Mata mereka pun sudah terlalu benci dengan buku-buku yang tebal, bahkan tak bisa mereka berkeinginan untuk menyentuk buku-buku itu. Andai mereka tahu tak cukup waktu untuk menghitung setiap biji beras dalam sebuah karung, seperti itu lah kekaguman yang muncul, aku tak bisa mengutarakan betapa aku sungguh mengagumi beliau, bahkan tak semua aku tahu tentangnya. Dan jika mereka tahu, merekapun pasti akan bersikap sama dengan ku.
Orang yang sangat dicintai memang begitu adanya, kesempurnaan tiada batas membalut semua permukaan bayangan tentangnya, tak ada yang cacat. Mengapa tidak? Ketika Rosul masih kecil Jibril mensucikan hatinya, agar tak bernoda, dan Sungguh sucinya hati Rosulullah, yang tawanya adalah senyum, kerendahan hati selalu terpancar dari wajahnya yang tampan itu.
Hari yang diselimuti kegelapan datang, terlihat sesosok pria berbalut kain merah, indah mata memandang, malam itu bulan pun menerangi malam ini, dan keindahan pria itu melebihi keindahan bulan dimalam itu. Sungguh indah tak terbayangkan.
Ada syair tua yang menggambarkan keindahan Rosul. Ku kutip dari sebuah buku, yaitu syair milik Abu Kabir al-Hudzali
Jika aku melihat keringat yang ada diwajahnya
Ia bersinar bagaikan kilat yang melintas
Dan dalam syair karya Zuhair bin Abi Sulma
Jikalau engkau bukan seorang manusia
Niscaya engkaulah yang bersinar pada malam purnama
Itulah Rosul, bermimpi namun itu hanya mimpi, tuk mengubahnya menjadi sebuah kenyataan, untuk hal ini merupakan suatu hal yang mustahil.menghadirkan sosok seperti Rosul, apalagi di zaman ini, sungguh hanya butiran mimpi yang berterbangan oleh angin sunyi.
Banyak kata-kata kagum yang mengiringi langkah Rosul, banyak pula penghinaan yang beliau terima. Tapi orang-orang itu, bukan alasan membenci Rosul, tapi tak terima dengan ajaran yang beliau bawa. Jadi sebenarnya tidak ada yang membenci beliau, semua orang mencintainya, tapi kenapa orang-orang zaman ini tak mampu menanamkan perasaan itu?
Jika memang benci, itu karena wahyu yang Rosul bawa. Pantas, kekaguman mata yang melihat, tapi wahyu hanya hati yang menerima. Hati mereka yang menbenci ajaran islam, telah kotor, hingga tak ada celah yang bisa masuk.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
terima kasih untuk semua teman-teman yang sudah berpartisipasi atas terciptanya blog ini. mudah-mudahan blog ini bisa bermanfa'at. Amin